Jakarta – Di sebuah sudut ruang pamer yang sederhana namun tertata rapi, waktu seakan berjalan lebih lambat. Deretan lencana kepanduan dari berbagai era tersusun dalam etalase kaca. Buku-buku panduan yang telah menguning dimakan usia berjajar di rak kayu. Di beberapa sudut, seragam kepanduan lawas tergantung rapi, menjadi saksi bisu perjalanan panjang gerakan kepanduan yang telah membentuk karakter jutaan generasi.
Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin hanya terlihat sebagai barang lama yang tak lagi digunakan. Namun di tangan Kak Ir. Sudjono Adimulyo, semuanya memiliki cerita yang hidup.
Pria yang pernah mengikuti World Scout Jamboree 1991 di Korea Selatan sekaligus pendiri Bumi Perkemahan (Buper) Maleo itu telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk mengumpulkan berbagai memorabilia kepanduan dari dalam dan luar negeri. Jumlah koleksinya kini mencapai ribuan item yang berasal dari berbagai negara dan periode sejarah.
Hari itu, sejumlah anggota Pramuka dari gugus depan di Jakarta Selatan tampak antusias mengelilingi Kak Sudjono. Dengan penuh semangat, ia menjelaskan satu per satu benda yang tersimpan di hadapan mereka.
“Setiap lencana dan dokumentasi memiliki cerita. Ada lencana yang dikeluarkan saat masa transisi organisasi kepanduan menjadi Gerakan Praja Muda Karana pada 1961, ada pula lencana dari Jambore Nasional pertama yang sangat langka hingga jambore dunia yang akan datang,” tuturnya sambil menunjukkan salah satu koleksi favoritnya.

Tatapan kagum terlihat dari wajah para peserta. Benda-benda kecil yang selama ini mungkin dianggap biasa ternyata menyimpan kisah besar tentang perjalanan bangsa dan perkembangan Gerakan Pramuka Indonesia.
Bagi Kak Sudjono, mengoleksi bukan sekadar hobi. Setiap lencana, seragam, dokumen, hingga tanda pengenal yang ia kumpulkan merupakan bagian dari upaya menjaga memori kolektif gerakan kepanduan.
Di balik setiap koleksi terdapat proses panjang. Tidak jarang ia harus melakukan riset mendalam untuk mengetahui asal-usul sebuah benda, tahun penerbitannya, organisasi yang mengeluarkannya, hingga makna simbol-simbol yang tertera di dalamnya.
“Kalau hanya mengumpulkan barang, siapa saja bisa. Tetapi memahami sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya itulah yang paling penting,” ujarnya.
Melalui koleksi tersebut, Kak Sudjono berusaha memperkenalkan kepada generasi muda bahwa sejarah kepanduan Indonesia tidak lahir dalam satu malam. Sebelum lahirnya Gerakan Pramuka pada tahun 1961, terdapat puluhan organisasi kepanduan yang tumbuh dan berkembang dengan karakteristik masing-masing.
“Banyak anak Pramuka sekarang tidak tahu bahwa dulu ada banyak sekali organisasi kepanduan sebelum disatukan. Koleksi ini membuktikan bahwa keberagaman itu pernah ada dan akhirnya menyatu demi kepentingan nasional,” katanya.
Di tengah era digital yang serba cepat, minat terhadap benda-benda sejarah kepanduan ternyata mulai tumbuh kembali. Semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari sejarah melalui koleksi fisik yang autentik. Bagi mereka, mengamati lencana, membaca dokumen lama, atau melihat langsung seragam dari masa lampau memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan membaca buku atau melihat gambar di layar gawai.
Fenomena tersebut menjadi harapan tersendiri bagi para kolektor. Mereka melihat bahwa koleksi kepanduan bukan hanya benda pajangan, melainkan sarana edukasi yang mampu menjembatani generasi masa kini dengan masa lalu.
Kak Sudjono berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap upaya pelestarian sejarah kepanduan. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan dokumentasi dan artefak kepanduan yang sangat besar, namun belum seluruhnya terdokumentasi dan tersimpan secara optimal.
Ia bahkan bermimpi suatu saat hadir museum kepanduan yang representatif, tempat berbagai koleksi bersejarah dapat dipelajari oleh masyarakat luas dan menjadi pusat edukasi bagi generasi muda.
“Kalau tidak kita jaga sekarang, mungkin beberapa puluh tahun lagi banyak jejak sejarah yang hilang. Padahal dari sejarah itulah kita belajar tentang perjuangan, persatuan, dan nilai-nilai yang diwariskan kepada kita,” ungkapnya.
Di balik kilau logam lencana yang mulai kusam dan lembaran dokumen yang rapuh dimakan usia, tersimpan kisah tentang pengabdian, persaudaraan, serta semangat membangun karakter generasi muda. Koleksi-koleksi itu menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kepanduan tidak pernah lekang oleh waktu.
Zaman boleh berubah, teknologi terus berkembang, dan generasi silih berganti. Namun melalui tangan para penjaga sejarah seperti Kak Sudjono, semangat kepanduan tetap hidup, terawat, dan terus diwariskan kepada mereka yang akan melanjutkan perjalanan di masa depan.
Pewarta: Kak Agus Budi Utomo

