Jakarta Barat – Tiga anggota Gugusdepan 08-215 dan 08-216 Ambalan KH Ahmad Dahlan dan Malahayati, pangkalan SMAN 85 Jakarta, berhasil meraih predikat Pramuka Garuda. Ketiganya dilantik dalam kegiatan pelantikan Pramuka Garuda yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur pada 1 November 2026.
Ketiga anggota tersebut adalah Keysia Yayang, Dafindra Maulana Azam, dan Sasikirana Ermiana Winarno. Pencapaian ini menjadi hasil dari proses panjang yang mereka lalui, mulai dari pemenuhan persyaratan kecakapan, penyusunan berkas administrasi, hingga mengikuti tahapan seleksi Pramuka Garuda.
Keysia Yayang mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan menjadi Pramuka Garuda bukan hanya kebanggaan bagi dirinya, tetapi juga bagi teman-teman seperjuangan, para pembina, serta orang tua yang turut mendukung proses tersebut.

“Super proud, bukan ke diri sendiri aja, tapi ke teman-teman seperjuangan, ke Kak Nining dan semua kakak-kakak yang terlibat di proses Pramuka Garuda, dan ke orang tua juga,” ujar Keysia.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Keysia adalah saat mengikuti pentas seni dalam rangkaian kegiatan. Ia mengaku antusias ketika kelompoknya tampil membawakan lagu-lagu populer yang dikenal banyak peserta.
Ia tidak menyangka penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari peserta lain yang ikut bernyanyi bersama.
“Aku sebenarnya berekspektasi banget kalau nanti sangga penegak kita pas tampil bakal ramai, karena aku yakin nyanyi itu kesukaan semua orang, apalagi kalau lagunya lagu-lagu hits yang semua orang tahu dan relate. Makanya, pas tampil ternyata benar-benar seramai itu. Semua adik-adik nyanyi bareng sama kita, hitung-hitung menutupi suara yang fals ini,” tuturnya.

Bagi Keysia, predikat Pramuka Garuda juga memiliki manfaat untuk pengembangan diri dan pendidikan. Ia menilai pencapaian tersebut dapat menjadi nilai tambah dalam menempuh pendidikan lanjutan, termasuk peluang melalui jalur prestasi maupun beasiswa.
Telah mengikuti kegiatan kepramukaan sejak SMP, Keysia mengaku semakin merasakan bahwa Pramuka menjadi salah satu minat yang ingin terus dikembangkannya. Ia ingin memperdalam nilai-nilai kepramukaan sekaligus mengukur perkembangan diri setelah melalui berbagai proses pembinaan.
Sementara itu, Sasikirana Ermiana Winarno mengaku senang, bangga, dan bersyukur dapat mencapai predikat Pramuka Garuda. Menurutnya, pencapaian tersebut tidak mudah karena membutuhkan usaha, kesiapan, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan.
Ia menceritakan, proses menuju Pramuka Garuda berlangsung cukup singkat. Sosialisasi kegiatan baru diterima sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan, sedangkan persiapan berkas persyaratan baru dapat dimulai sekitar dua minggu sebelumnya.
“Jujur, proses menuju Pramuka Garuda ini terbilang cukup singkat dan penuh tantangan. Waktu itu, sosialisasi mengenai kegiatan Pramuka Garuda baru diumumkan sekitar H-3 minggu sebelum keberangkatan. Kemudian, aku dan teman-teman baru bisa mulai mempersiapkan berkas-berkas persyaratan sekitar H-2 minggu,” ungkap Sasikirana.

Tantangan semakin besar karena pada waktu bersamaan ia dan teman-temannya juga harus mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sebagai siswa kelas XII, Sasikirana harus membagi waktu antara persiapan akademik dan melengkapi berbagai persyaratan Pramuka Garuda.
Selain keterbatasan waktu, pengumpulan dokumen juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa persyaratan membutuhkan bantuan dan keterlibatan pihak lain sehingga diperlukan koordinasi agar seluruh berkas dapat diselesaikan tepat waktu.
Meski demikian, proses tersebut justru menghadirkan pengalaman kebersamaan yang berkesan. Sasikirana bersama teman-temannya saling membantu, berdiskusi, dan bertukar informasi mengenai persyaratan yang harus dipenuhi. Ia juga berkesempatan mengenal anggota Pramuka dari MAN 10 serta berbagi pengalaman selama proses persiapan.
Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa perjalanan menjadi Pramuka Garuda tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan persyaratan individu, tetapi juga mengajarkan kerja sama, kepedulian, dan pentingnya membangun relasi dengan sesama anggota Pramuka.
Sasikirana menjelaskan, keinginannya meraih predikat Pramuka Garuda didorong oleh tekad untuk membuktikan hasil perjalanan selama kurang lebih tiga tahun menjadi anggota Pramuka di tingkat SMA. Ia ingin menunjukkan perkembangan kemampuan, keterampilan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang telah dipelajari selama mengikuti kegiatan kepramukaan.
Selain menjadi bentuk pencapaian pribadi, ia juga melihat predikat Pramuka Garuda sebagai peluang untuk mengembangkan potensi diri dan menjadi nilai tambah dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi kepramukaan.
Di sisi lain, Dafindra Maulana Azam juga mengungkapkan rasa bangga dan senang setelah berhasil melewati berbagai tahapan untuk meraih predikat Pramuka Garuda. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan kedisiplinan dan kesiapan mental, mulai dari menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum (SKU), Syarat Kecakapan Khusus (SKK), hingga mengikuti proses pemberkasan dan seleksi.
“Prosesnya sangat panjang dan melatih kedisiplinan serta mental. Mulai dari menyelesaikan SKU dan SKK, membuat saya melatih disiplin, mental, dan manajemen waktu. Pada saat paling seru, mulai dari pemberkasan, kita bisa saling bercerita dan tukar pikiran tentang Pramuka Garuda. Kemudian, di dalam kegiatan di Buperta, kita mendapat pengalaman baru lagi karena bertemu teman baru dan golongan lain,” ujar Dafindra.
Ia memandang Pramuka Garuda sebagai penghargaan sekaligus pencapaian tertinggi yang dapat diraih anggota Pramuka di golongan Penegak. Baginya, predikat tersebut menjadi kebanggaan pribadi sekaligus tanggung jawab untuk memberikan teladan bagi anggota Pramuka lainnya sesuai dengan Sistem Among.
Dafindra berharap pencapaian tersebut tidak berhenti sebagai penghargaan pribadi, tetapi juga dapat menjadi dorongan untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Keberhasilan Keysia, Sasikirana, dan Dafindra menjadi Pramuka Garuda menunjukkan bahwa proses kepramukaan tidak hanya berorientasi pada pencapaian tingkatan kecakapan. Perjalanan tersebut juga membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kemauan untuk terus mengembangkan diri dan memberi manfaat bagi sesama.
Pewarta: Dewan Ambalan SMAN 85 Jakarta

