Jakarta Timur — SMP Negeri 160 Jakarta menggelar kegiatan simulasi gempa bumi dengan melibatkan unsur Pramuka sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh 80 siswa perwakilan kelas, guru, serta staf sekolah pada Rabu (29/4/2026).

Dalam pelaksanaannya, anggota Pramuka turut berperan aktif membantu mengoordinasikan jalannya simulasi, mulai dari pengondisian peserta hingga memastikan proses evakuasi berjalan tertib. Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dengan dibunyikannya sirine sebagai tanda terjadinya gempa.
Saat simulasi berlangsung, siswa langsung melakukan prosedur penyelamatan diri dengan berlindung di bawah meja, kemudian secara bertahap keluar dari kelas menuju lapangan utama sebagai titik kumpul. Anggota Pramuka bersama guru dan petugas sekolah mengarahkan peserta agar tetap tenang serta mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.

Kepala SMPN 160 Jakarta, Ngadirah, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini penting mengingat Indonesia merupakan wilayah rawan bencana gempa bumi. Ia menekankan perlunya kesiapan sejak dini, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
“Sebagai masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa, kita harus tanggap dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Dengan pemahaman ini, siswa dapat saling menyelamatkan di sekolah maupun membantu keluarga di rumah, sehingga dapat mengurangi risiko korban,” ujarnya.
Keterlibatan Pramuka dalam kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pendidikan karakter, khususnya dalam hal kedisiplinan, kepedulian, dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi anggota Pramuka dalam menjalankan peran sebagai pelopor keselamatan di lingkungan sekolah.
Salah satu peserta, Sinta Nur Aini, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman berharga. “Simulasi ini penting untuk mengurangi risiko korban. Saya merasa senang, meskipun ada rasa takut,” katanya.

Sementara itu, Maulana Yusuf menyampaikan bahwa simulasi tersebut membantunya memahami cara bertindak saat kondisi darurat. “Awalnya tegang dan panik, tetapi kemudian bisa lebih fokus, bekerja sama, dan akhirnya merasa lebih siap,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, SMPN 160 Jakarta berharap peran aktif Pramuka dan seluruh warga sekolah dapat terus ditingkatkan dalam membangun budaya sadar bencana, sehingga mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tanggap terhadap potensi bencana.
Pewarta: Kak Yanu Manoviyadi

