Jakarta – Dua momentum kebangsaan hadir beriringan pada awal Oktober. Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati kemarin 1 Oktober menjadi ruang refleksi atas nilai-nilai kebangsaan, sementara hari ini, hari Batik Nasional 2 Oktober menjadi pengingat akan pentingnya menjaga identitas dan warisan budaya Indonesia.
Bagi Pramuka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kedua momentum ini tidak hanya dimaknai melalui seremoni. Dengan dituangkan melalui semangat dalam aksi sederhana melalui Sedekah Makan Siang (SMS) dengan berbagi makanan kepada masyarakat yang membutuhkan di sekitar lingkungan kampus, Jumat (2/10/2026).
Usai melaksanakan salat Jumat, Kak Nida dari bidang Sosial Budaya (Sosbudaya) bersama anggota Pramuka UIN Jakarta lainnya yang berjumlah 10 orang turun langsung membagikan 45 paket makanan dan minuman ke masyarakat yang membutuhkan, termasuk masyarakat tunawisma di sekitar lingkungan kampus. Dengan mengenakan pakaian batik, mereka hadir membawa makanan sekaligus semangat berbagi.

Kegiatan ini menjadi sebuah refleksi atas nilai-nilai Pancasila, khususnya semangat kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama. Pancasila tidak hanya dipahami sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai nilai yang dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah masyarakat, kepedulian dapat dimulai dari hal yang sederhana. Seporsi makanan mungkin terlihat kecil, tetapi ketika diberikan dengan ketulusan, dapat menjadi bentuk kehadiran dan perhatian kepada mereka yang sedang membutuhkan.
“Senang rasanya dapat berbagi kasih di hari ini sebagai bentuk refleksi dan kesadaran untuk peduli di tengah masyarakat,” ujar Valdy, salah satu anggota peserta Pengembaraan 2025.
Kehadiran anggota Pramuka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengenakan batik juga memiliki makna tersendiri. Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober hari ini menjadi momentum untuk kembali mengenali batik sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

Batik bukan sekadar busana, tetapi merupakan warisan budaya yang hidup dan terus berkembang bersama masyarakat. Di tengah kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang semakin kuat, keberadaan batik menjadi salah satu pengingat bahwa kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
Karena itu, penggunaan batik dalam kegiatan Sedekah Makan Siang kali ini menjadi simbol sederhana bahwa pelestarian budaya dapat hadir bersamaan dengan kegiatan sosial. Mengenakan batik bukan hanya tentang pakaian yang dikenakan, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda terus mengenal, menggunakan, dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia.
Melalui semangat Pramuka, nilai Pancasila dihidupkan dalam kepedulian, sementara batik dikenalkan sebagai identitas budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman. Dari kampus, Pramuka UIN Jakarta berupaya hadir di tengah masyarakat bagian dari belajar untuk peduli, berbagi, dan mengabdi.
Pewarta : Kak Novanto

