Bagi Kak Taftazani Ramadhan, Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan ruang tumbuh yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan cara memandang pengabdian. Perjalanan panjangnya di Gerakan Pramuka dimulai sejak bangku Sekolah Dasar, ketika Pramuka menjadi kegiatan wajib di tingkat Siaga. Dari sanalah benih ketertarikan itu tumbuh.

Memasuki masa Penggalang di tingkat SMP, kecintaannya terhadap Pramuka semakin menguat, terutama melalui pengalaman mengikuti perkemahan Pramuka inti. Namun, titik pendewasaan kepramukaan benar-benar ia rasakan saat berada di golongan Penegak. Di fase inilah Kak Taftazani mulai memahami Pramuka secara lebih sistematis—bukan hanya sebagai aktivitas lapangan, tetapi sebagai organisasi pendidikan yang terstruktur dan berjenjang.
Keaktifannya di Pramuka Jakarta Selatan mulai terlihat saat mengikuti Raimuna Cabang Jakarta Selatan tahun 2019. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk bagi keterlibatannya yang lebih luas. Tak lama berselang, ia kembali menunjukkan kiprahnya dalam Giat Prestasi Kwartir Cabang Jakarta Selatan, yang berhasil meraih juara umum, mewakili Gugus Depan 10.089 SMAN 90 Jakarta. Capaian ini menjadi bukti awal konsistensi dan dedikasinya di dunia kepramukaan.

Menurut Kak Taftazani, salah satu daya tarik utama Pramuka adalah luasnya jejaring organisasi yang terbentang hingga tingkat nasional. Pramuka memberinya kesempatan untuk membangun relasi lintas daerah, bertemu rekan-rekan sebaya dari berbagai latar belakang budaya dari Sabang hingga Merauke. Namun, di balik luasnya jaringan tersebut, nilai kekeluargaan justru menjadi alasan paling kuat yang membuatnya bertahan dan terus aktif hingga kini.
Perjalanan organisasinya dimulai dari tingkat gugus depan. Ia pernah mengemban amanah sebagai juru uang Dewan Ambalan, kemudian melangkah menjadi Bendahara Dewan Kerja Ranting (DKR). Kepercayaan itu terus bertambah hingga akhirnya ia terpilih sebagai Ketua DKR Pesanggrahan melalui mekanisme pleno. Setelah tiga tahun berproses di DKR, Kak Taftazani melanjutkan pengabdian ke tingkat cabang melalui Pergantian Antar Waktu (PAW) DKC Jakarta Selatan, dengan perjalanan yang berjenjang mulai dari anggota bidang kegiatan, Kepala Bidang Penelitian dan Evaluasi, hingga dipercaya menjabat sebagai Sekretaris DKC Jakarta Selatan.

Dari sekian banyak kegiatan yang diikutinya, dua pengalaman paling berkesan baginya adalah keterlibatan sebagai Sangga Kerja Raimuna Nasional 2023 dan amanah sebagai Ketua Pelaksana Raimuna Cabang Jakarta Selatan 2025. Dua peristiwa besar ini menjadi sekolah kepemimpinan yang nyata mengajarkannya tentang manajemen waktu, pengelolaan kegiatan berskala besar, membangun kepercayaan tim, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Di tengah berbagai peran tersebut, tantangan terbesar yang ia hadapi adalah manajemen waktu. Baginya, kemampuan menentukan prioritas berdasarkan tingkat urgensi merupakan kunci agar setiap tanggung jawab dapat dijalankan secara optimal. Prinsip ini terus ia pegang hingga kini, terutama saat harus menyeimbangkan antara organisasi, pendidikan, dan kehidupan pribadi.

Motivasi terbesarnya datang dari keluarga, khususnya sang ibu yang juga aktif sebagai Pramuka di Satuan Karya (Saka). Dari ibunya, Kak Taftazani belajar tentang makna pengabdian, kedisiplinan, dan ketulusan dalam berorganisasi. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi langkahnya untuk terus melangkah lebih jauh.
Dorongan untuk berkontribusi lebih luas membawanya mengikuti seleksi anggota Dewan Kerja Nasional (DKN). Proses seleksi yang ketat dimulai dari tahap pemberkasan, dilanjutkan seleksi daring yang menuntut kemampuan public speaking serta berpikir kritis dalam mengkaji kebijakan, hingga seleksi luring selama tiga hari yang mencakup tes pengetahuan kepramukaan hingga tes psikologi. Tahap seleksi daring menjadi bagian paling menantang karena peserta harus menganalisis isu kepramukaan secara berkelompok dalam waktu kurang dari 24 jam.
Bagi Kak Taftazani, terpilih menjadi anggota Dewan Kerja Nasional bukanlah pencapaian pribadi semata, melainkan amanah besar untuk menampung aspirasi Pramuka Penegak dan Pandega se-Indonesia serta merumuskan kebijakan yang sejalan dengan kode etik Gerakan Pramuka. Ia memilih Bidang Kajian karena bidang tersebut paling sesuai dengan minat dan latar belakangnya, sekaligus memberi ruang kontribusi strategis dalam perumusan kebijakan nasional.

Di tingkat nasional, tantangan utama yang ia hadapi adalah menyatukan beragam aspirasi dari daerah-daerah dengan latar budaya yang berbeda. Oleh karena itu, kemampuan memahami perbedaan pandangan, bersikap objektif, dan menjadi penengah dalam perbedaan pemikiran menjadi kompetensi yang sangat ia junjung.
Nilai-nilai yang selalu ia pegang teguh adalah keikhlasan dalam pengabdian, semangat untuk terus belajar, konsistensi menjalankan amanah, serta keberanian mengambil risiko sebagai bagian dari proses pembelajaran. Baginya, risiko terbesar dalam hidup justru adalah tidak berani mengambil risiko sama sekali.

Ke depan, Kak Taftazani berharap dapat menjadi teladan dan role model bagi Pramuka Penegak dan Pandega di seluruh Indonesia—bahwa dengan niat tulus, keberanian melangkah, dan kesediaan belajar, Pramuka dapat menjadi jalan pengabdian yang membentuk pemimpin masa depan bangsa.
Pewarta: Pusdatin Kwarda DKI Jakarta

